1. Masalah Penyembelihan Hewan
Deskripsi Masalah
Seseorang menyembelih kambing dengan memenuhi syarat rukun dalam udlhiyah, termasuk putusnya khulqum dan mari'. Setelah disembelih kambing tersebut tidak langsung mati tapi seolah masih hidup dan baru terlihat tidak bernyawa setelah 3 jam. Ada juga orang yang menyembelih hewan tapi dia merasa belum secara sempurna memutus khulqum (jalur pernafasan) dan mari' (jalur makanan)
Pertanyaan :
a. Apa bisa di sembelih lagi ?
b. Apa di sembelih lagi di bagian bawahnya ?
c. Apa sudah di anggap bangkai ?
( Ranting Tanjungan )
Jawaban :
a. Bila yakin sudah memenuhi syarat dan rukun, maka Sunnah untuk membiarkan hewan tersebut sampai betul-betul mati dan makruh melakukan tindakan apapun untuk mempercepat kematian karena ada larangan melakukan ziyadatut ta'dziib (penyiksaan hewan yang berlebihan)
b. Bila yakin belum memutus hulqum dan mari' dan ada tanda-tanda hayaatun mustaqirroh (ruh yang menetap) maka wajib untuk menyembelih ulang dan harus pada titik penyembelihan yang pertama (meneruskan), tidak boleh menyembelih pada titik yang lain
c. Kalau yakin sudah memenuhi syarat rukun maka tidak menjadi bangkai. Bila yakin belum memutus hulqum dan mari' bila dibiarkan maka menjadi bangkai yang tidak halal di makan
Catatan :
Hewan yang disembelih mempunyai 3 jenis hidup :
(1) hayaatun mustamirroh yaitu kehidupan yang dimulai dari awal lahir sampai kematian
(2) hayaatun mustaqirroh
Dimana ada ruh didalam jasad, bisa bergerak sesuai keinginan, kalaupun luka parah
(3) hayaatu 'aisyul madzbuuh
yaitu kehidupan yang tidak menyisakan penglihatan, tidak ada kemampuan berbicara/bersuara, tidak bisa mengontrol gerakan dan tidak ada kesadaran
(4) Tentang syarat putusnya hulqum dan mari' , didalam lingkungan madzhab Syafi'yah, ada pendapat imam Al.Istokhry yang mencukupkan memutus salah satu hulqum atau mari' , tidak harus keduanya. Ada juga yang mempersyaratkan putusnya hulqum dan mari' tapi tidak harus putus 100% , menyisakan 2/3 juga di anggap cukup.
Referensi :
١. كفاية الاخيار ج٢ ص ٢٢٤
والمستحب أن يقطع الحلقوم والمرىء والودجين، لأنه أوحي وأروح للذبيحة فإن اقتصر على قطع الحلقوم والمرىء أجزأه، لأن الحلقوم مجرى النفس، والمرىء مجرى الطعام، والروح لا تبقى مع قطعهما، والمستحب أن ينحر الإبل ويذبح البقر والشاة، فإن خالف ونحر البقر والشاة وذبح الإبل أجزأه، لأن الجميع موت من غير تعذيب، ويكره أن يبين الرأس وأن يبالغ في الذبح إلى أن يبلغ النخاع، وهو عرق يمتد من الدماغ، ويستبطن الفقار إلى عجب الذنب لما روى عن عمر رضي الله عنه أنه «نهى عن النخع» ولأن فيه زيادة تعذيب فإن فعل ذلك لم يحرم لأن ذلك يوجد بعد حصول الذكاة
الباجوري ج١ ص٣٧٢
قوله يكون قطع ما ذكر أي من الحلقوم والمريء قوله دفعة واحدة لا دفعتين أي إذا لم توجد الحياة المستقرة عند الدفعة الثانية أما إذا وجدت الحياة المستقرة عند الدفعة الثانية فيحل المذبوح حينئذ و مثل الدفعة الثانية غيرها كالثالثة
المجموع شرح المهذب ج1 ص83
والمستحب أن يقطع الحلقوم والمرئ والودجين لانه أوحى وأروح للذبيحة فان اقتصر على قطع الحلقوم والمرئ أجزأه لان الحلقوم مجرى النفس والمرئ مجرى الطعام والروح لا تبقي مع قطعهما .......... الى ان قال فان بلغ السكين الحلقوم والمرئ وقد بقيت فيه حياة مستقرة حل لان الذكاة صادفته وهو حي وان لم يبق فيه حياة مستقرة الا حركة مذبوح لم يحل لانه صار ميتا قبل الذكاة
ﺍﻟﻤﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻟﻔﻘﻬﻴﺔ ﺍﻟﻜﻮﻳﺘﻴﺔ
ﻭﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺠﻨﺎﻳﺔ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺇﻣّﺎ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﻣﺴﺘﻤﺮّﺓً، ﺃﻭ ﻣﺴﺘﻘﺮّﺓً، ﺃﻭ ﺣﻴﺎﺓ ﻋﻴﺶ ﺍﻟﻤﺬﺑﻮﺡ
ﻭﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﺍﻟﻤﺴﺘﻤﺮّﺓ: ﻫﻲ ﺍﻟّﺘﻲ ﺗﺒﻘﻰ ﺇﻟﻰ ﺍﻧﻘﻀﺎﺀ ﺍﻷﺟﻞ ﺑﻤﻮﺕ ﺃﻭ ﻗﺘﻞ.
ﻭﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﺮّﺓ: ﺗﻜﻮﻥ ﺑﻮﺟﻮﺩ ﺍﻟﺮّﻭﺡ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﺴﺪ ﻭﻣﻌﻬﺎ ﺍﻟﺤﺮﻛﺔ ﺍﻻﺧﺘﻴﺎﺭﻳّﺔ ﻭﺍﻹﺩﺭﺍﻙ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﺤﺮﻛﺔ ﺍﻻﺿﻄﺮﺍﺭﻳّﺔ. كما ﻟﻮ ﻃﻌﻦ ﺇﻧﺴﺎﻥ ﻭﻗﻄﻊ ﺑﻤﻮﺗﻪ ﺑﻌﺪ ﺳﺎﻋﺔ ﺃﻭ ﻳﻮﻡ ﺃﻭ ﺃﻳّﺎﻡ ﻭﺣﺮﻛﺘﻪ ﺍﻻﺧﺘﻴﺎﺭﻳّﺔ ﻣﻮﺟﻮﺩﺓ.
ﻭﺣﻴﺎﺓ ﻋﻴﺶ ﺍﻟﻤﺬﺑﻮﺡ ﻫﻲ ﺍﻟّﺘﻲ ﻻ ﻳﺒﻘﻰ ﻣﻌﻬﺎ ﺇﺑﺼﺎﺭ ﻭﻻ ﻧﻄﻖ ﻭﻻ ﺣﺮﻛﺔ ﺍﺧﺘﻴﺎﺭ
2. Masalah Uang Panjer
Di beberapa tempat, sudah menjadi kebiasaan ketika seseorang membeli sesuatu barang, dengan cara uang muka/panjer ketika pembeli membatalkan jual belinya maka uang muka akan menjadi hilang / hangus (hak miliknya si penjual).
Sebut saja pak Tarman ia berniat membelikan sepeda motor bekas untuk anaknya. Datanglah pak Tarman ke rumah pak Abdullah yang hendak menjual sepeda motor. Keduanya sepakat diharga 12 juta. Karena pak tarman kurang yakin, anaknya akan senang atau tidak, maka pak Abdullah meminta uang muka dan mempersilahkan motor dibawa dan bila anaknya tidak cocok maka mempersilahkan untuk dikembalikan. Pak Tarman lalu memberikan uang sebanyak 1 juta. Sepeda motor dibawa pulang dan sampai rumah ternyata anaknya tidak menyukai sepeda motor tersebut. Pak tarman lalu mengembalikan sepeda motor tersebut dan saat pak Tarman meminta uang muka yang telah dibayarnya pak Abdullah tidak memberikannya dengan alasan sudah menjadi kebiasaan dan tidak ada kesepakatan pengembalian
Pertanyaan :
a. Apakah hukum jual beli dengan sistem uang muka yang hangus ?
b. Adakah qoul yang memperbolehkan uang muka menjadi milik penjual?
c. Bagaimana solusinya?
(Ranting Tanjungan)
a. Jual beli seperti dalam deskripsi disebut dengan istilah fikih di sebut dengan bai' 'arbuun dan status hukumnya, menurut jumhur Syafi'yah, Hanafiyah dan Malikiyah, hukumnya tidak boleh di lakukan karena ada hadits yang melarang, juga termasuk akad yang terdapat unsur penipuan, dll.
b. Ada yaitu pendapat ulama Hanabilah yang memperbolehkan secara mutlak
c. Solusinya dengan membuat transaksi khiyar syarath, dimana akad dan keseluruhan konsekuensinya di fahami dan disepakati kedua belah pihak untuk menghindari adanya unsur ketidakjelasan, penipuan dll.
Referensi :
الموسوعة الفقهية ج٩ ص٩٣
بَيْعُ الْعَرَبُونِ ...فِي الاِصْطِلاَحِ الْفِقْهِيِّ : أَنْ يَشْتَرِيَ السِّلْعَةَ ، وَيَدْفَعَ إِلَى الْبَائِعِ دِرْهَمًا أَوْ أَكْثَرَ ، عَلَى أَنَّهُ إِنْ أَخَذَ السِّلْعَةَ ، احْتَسَبَ بِهِ مِنَ الثَّمَنِ ، وَإِنْ لَمْ يَأْخُذْهَا فَهُوَ لِلْبَائِعِ
الْحُكْمُ الإِْجْمَالِيُّ :
2 - وَالْفُقَهَاءُ مُخْتَلِفُونَ فِي حُكْمِ هَذَا الْبَيْعِ : فَجُمْهُورُهُمْ ، مِنَ الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ ، وَأَبُو الْخَطَّابِ مِنَ الْحَنَابِلَةِ ، يَرَوْنَ أَنَّهُ لاَ يَصِحُّ ، وَهُوَ الْمَرْوِيُّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا وَالْحَسَنِ كَمَا يَقُول ابْنُ قُدَامَةَ ، وَذَلِكَ : لِلنَّهْيِ عَنْهُ فِي حَدِيثِ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ ، قَال : نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْعُرْبَانِ
وَلأَِنَّهُ مِنْ أَكْل أَمْوَال النَّاسِ بِالْبَاطِل ، وَفِيهِ غَرَرٌ ، وَلأَِنَّ فِيهِ شَرْطَيْنِ مُفْسِدَيْنِ : شَرْطَ الْهِبَةِ لِلْعُرْبُونِ ، وَشَرْطَ رَدِّ الْمَبِيعِ بِتَقْدِيرِ أَنْ لاَ يَرْضَى
وَلأَِنَّهُ شَرَطَ لِلْبَائِعِ شَيْئًا بِغَيْرِ عِوَضٍ ، فَلَمْ يَصِحَّ ، كَمَا لَوْ شَرَطَهُ لأَِجْنَبِيٍّ
وَلأَِنَّهُ بِمَنْزِلَةِ الْخِيَارِ الْمَجْهُول ، فَإِنَّهُ اشْتَرَطَ أَنَّ لَهُ رَدَّ الْمَبِيعِ مِنْ غَيْرِ ذِكْرِ مُدَّةٍ ، فَلَمْ يَصِحَّ ، كَمَا لَوْ قَال : وَلِي الْخِيَارُ ، مَتَى شِئْتُ رَدَدْتُ السِّلْعَةَ ، وَمَعَهَا دِرْهَمٌ
المجموع ج ٩ ص ٤٠٨ مكتبة مطبعة المنيرية
( فرْعُ ) فِي مَذَاهِبِ الْعُلَمَاءِ فِي بَيْعِ الْعُرْبُونِ قَدْ ذَكَرْنَا أَنْ مَذهَبْنَا بُطْلاتُهُ إِنْ كَانَ الشَّرْطُ فِي نَفْسِ الْعَفْدِ وَحَكَهُ ابْنُ الْمُنْذِرِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسِ وَالْحَسَنِ وَمَالِكِ وأبي حَنِيفَةَ قَلَ وَهُوَ يُشْبِهُ قَوْلَ الشَّافِعِي قَالَ وَرُوِّينَا عَنْ ابْنِ عُمَرَ وَابْنِ سِيرِينَ جَوَازَهُ قَالَ وَقَدْ رُوِّينَا عَنْ نَافِعِ بْنِ عَبْدِ الْحَارِثِ أَنَّهُ اشْتَرَى دَارًا بِمَكَّةَ مِنْ صَفْوَانَ بْن أُمَيَّةَ بِأَرْبَعَةِ آلافٍ فَإِنْ رَضِيَ عُمَرُ فَالْبَيعُ لَهُ وَإِنْ لَمْ يَرْضَ فَلِصَفْوَانَ أَرْبَعُمِائَةِ قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ وَذُكِرَ لَاحْمَد بْنِ حَنْبَلٍ حَدِيثُ عُمَرَ فَقَالَ أَيُّ شَيْءٍ أَقْدِرُ أَقُولُ هَذا مَا ذَكَرَهُ ابْنُ الْمُنْذِرِ وَقَالَ الْخَطَّابِيُّ اخْتَلَفَ النَّاسُ فِي جَوَازِ هَذَا الْبَيْعِ فَأَبْطَلَهُ مَالِكُ وَالشَّافِعِيُّ لِلْحَدِيثِ وَلِمَا فِيهِ مِنْ الشَّرْطِ الْقَاسِدِ وَالْغَرَرِ وَأَكْلِ الْمَلِ بِالْبَاطِلِ وأبْطَلَهُ أَيْضًا أَصْحَابُ الرَّأْيِ وَعَنْ عُمَرَ وَابْنِ عُمَرَ جَوَازهُ وَمَالَ إِلَيْهِ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ اهـ




1.jpg)
.jpg)
.jpg)
Komentar
Tuliskan Komentar Anda!